Masyarakat Islam Departemen Agama (Depag), Nasaruddin Umar. Pengirimnya
empat negara sekaligus, di antaranya Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada.
Mereka meminta Ahmadiyah tak dibubarkan. ''Suratnya ditujukan kepada Menteri
Agama dan ada tembusannya ke saya,'' ungkap Nasarudin kepada Republika, di
Jakarta, beberapa waktu lalu. Lantas, apa yang akan dilakukan Depag? ''Itu
tidak akan mempengaruhi apa-apa. Kita tak mau didikte negara lain.''
Saat surat itu datang. Badan Koordinasi Aliran Kepercayaan (Bakorpakem)
memang sedang memantau 12 poin penjelasan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah
Indonesia (PB JAI) di seluruh Indonesia. Bila 12 poin tak sesuai kenyataan,
Bakorpakem berjanji bertindak tegas.
Mengapa negara lain sampai perlu melakukan intervensi? Merujuk fakta
sejarah, semuanya menjadi masuk akal. Hubungan Inggris dengan Mirza Ghulam
Ahmad (MGA) dan keluarganya memang mesra. 'Nabi' MGA berjasa menyerukan
penghapusan jihad saat India dijajah Inggris.
Hasan bin Mahmud Audah, mantan direktur umum Seksi Bahasa Arab Jemaat
Ahmadiyah Pusat di London, menilai hubungan MGA dan Inggris tak ubahnya
hubungan seorang pelayan kepada majikannya. Bukan semata hubungan terima
kasih seorang Muslim pada orang yang berjasa padanya.
Di Ruhani Khazain hlm 36, MGA menyatakan: ''*Tidak samar lagi, atas
pemerintah yang diberkahi ini (Britania), saya termasuk dari pelayannya,
para penasihatnya, dan para pendoa bagi kebaikannya dari dahulu, dan di
setiap waktu aku datang kepadanya dengan hati yang tulus.*''
Di Ruhain Khazain hlm 155, MGA menulis: '*'Sungguh aku telah menghabiskan
kebanyakan umurku dalam mengokohkan dan membantu pemerintahan Inggris. Dan
dalam mencegah jihad dan wajib taat kepada pemerintah (Inggris), aku telah
mengarang buku-buku, pengumuman-pengumuman, dan brosur-brosur yang apabila
dikumpulkan tentu akan memenuhi 50 lemari.*''
Tengok pula Ruhani Khazain hlm 28: ''*Sungguh telah dibatalkan pada hari ini
hukum jihad dengan pedang. Maka tidak ada jihad setelah hari ini. Barang
siapa mengangkat senjata kepada orang-orang kafir, maka dia telah menentang
Rasulullah... sesungguhnya saya ini adalah Al Masih yang ditunggu-tunggu.
Tidak ada jihad dengan senjata setelah kedatanganku ini.*''
MGA yang mengaku nabi, rasul, almaasih, almahdi, brahman avatar, krishna,
dan titisan nabi-nabi, teryata tunduk belaka di hadapan Ratu Victoria. *
Audah* dalam bukunya *Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan
Pengalaman-pengalaman* : ''*Perbuatan tidak bermalu Mirza Ghulam 'sang nabi'
merendahkan diri depan Ratu Victoria... tak bisa saya terima, bahkan saat
saya masih sebagai seorang Ahmadi sejati.*''
Pengabdian pada Inggris itu sudah dilakukan leluhur MGA sejak tahun 1830-an.
Saat itu, India yang masih dikuasai Muslim, menghadapi dua kekuatan: Inggris
dan kaum Sikh. Dalam perang sabil menghadapi kedua kekuatan itu, keluarga
Mirza memihak kaum Sikh dan Inggris.
Fakta tersebut diungkap *Bashiruddin Mahmud Ahmad*, anak MGA yang juga
khalifatul masih II dalam bukunya, Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad. Leluhur
MGA merupakan pemimpin tentara yang membantu Maharaja *Ranjit Singh*, *Jenderal
Nicholson*, dan *Jenderal Ventura*.
Dalam bukunya, Bashiruddin tak menjelaskan konteks pemberian bantuan itu.
Dia mengungkapkannya layaknya sebuah kehormatan besar bagi keluarganya.
Namun fakta sejarah memang tak bisa ditutupi, betapa yang diserang Ranjit
Sing, Nicholson, dan Ventura, adalah umat Islam.
''*Keuntungan yang utama bagi Inggris karena munculnya Almasih dan Imam
Mahdi itu adalah timbulnya perpecahan di kalangan ummat Islam yang tidak
bisa dielakkan lagi,*'' demikian kesimpulan Abdullah Hasan Alhadar dalam
bukunya Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah.
Saat masalah pertentangan soal Ahmadiyah mencapai puncaknya di Pakistan dan
konstitusi negara itu akhirnya mencantumkan bahwa penganut Ahmadiyah
merupakan non-Muslim, terjadilah ketegangan. Buntutnya, kekhalifahan
Ahmadiyah yang mirip 'dinasti' itu hengkang dari Pakistan.
Sejak tahun 1985, kekhalifahan tersebut berkedudukan di London, Inggris. Di
sana, sejak tahun 1994, Ahmadiyah memiliki sebuah corong untuk menyebarkan
ajarannya, yaitu *Muslim Television Ahmadiyyah* (MTA). Perlu dana luar biasa
besar untuk melakukan siaran empat bahasa itu.
Audah yang merupakan mantan orang dalam di markas pusat Ahmadiyah,
berkomentar tak mungkin televisi itu dijalankan dengan biaya dari sumbangan
orang-orang Ahmadiyah. ''Kami tidak mendapat informasi akurat mengenai
identitas orang yang memberi dana proyek itu.'' osa/run/RioL
*'Islam tak Butuh Mirza Ghulam Ahmad' *
sebut saja namanya Budi. Pria paruh baya yang tinggal di Desa Manis Lor, Kec
Jalaksana, Kab Kuningan, Jawa Barat, ini menjadi anggota Jemaat Ahmadiyah
pada 1983. Selama menjadi pengikut Mirza Ghulam Ahmad (MGA), dia mengaku
selalu mengalami pergolakan batin.
Sekitar 25 tahun lalu, orang-orang Ahmadiyah mendatanginya, menawarkan
bantuan materi. Budi yang sedang terlilit masalah ekonomi tentu saja senang.
Tapi, si pemberi bantuan mensyaratkan masuk Ahmadiyah. Tak begitu memahami
hakikat Ahmadiyah, Budi mau saja dibaiat. Tapi, setelah resmi menjadi
penganut Ahmadiyah, Budi mulai merasakan kejanggalan. Antara lain, soal
adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Budi juga tak bisa lagi shalat di
sembarang masjid, karena penganut Ahmadiyah dilarang shalat di belakang imam
non-Ahmadi.
Selain itu, Budi juga diharuskan menyetorkan uang pengorbanan sebesar 10
persen dari total penghasilan setiap bulan. Sesuatu yang dinilainya
memberatkan. ''Karena miskin, mereka suka 'tidak menganggap' dan sepertinya
memandang sebelah mata ke saya,'' kata Budi dengan logat Sunda.
Budi juga minder karena tak mampu membeli 'kavling surga'. Padahal, hanya
bila dikubur di tempat itulah, mereka mendapat jaminan masuk surga. Sudah 20
orang yang dikuburkan di sana, setelah membayar jutaan rupiah. Adanya
doktrin-doktrin yang tak lazim yang berlawan dengan yang didapatnya selama
ini, dan tak leluasa lagi bergaul dengan masyarakat, membuat batin Budi
bergolak. 'Hidup saya terasa mengambang, jauh dari ketenangan,'' kata Budi
kepada Republika di Manis Lor, beberapa waktu lalu.
Selama bertahun-tahun, Budi mengabaikan pergolakan batinnya, sampai akhirnya
dia tak tahan lagi. Awal 2008, dia memutuskan keluar. ''Saya sekarang lebih
tenang, tidak dikejar-kejar pengurus Ahmadiyah yang menagih uang
pengorbanan. Saya juga bisa shalat Jumat di mana saja.'' Orang seperti Budi
tak sedikit. Hasan Mahmud Audah, direktur umum seksi bahasa Arab Jemaat
Ahmadiyah yang berpusat di London, juga keluar dari ajaran Mirzaiyah itu
pada 17 Juli 1989.
Padahal, sebelumnya dia adalah seorang mubaligh Ahmadiyah dan pernah menetap
lama di Qadian. ''Menurut pendapat saya, Islam itu telah tampak dalam
keadaan sempurna dengan Nabi Muhammad SAW dan tidak membutuhkan Mirza Ghulam
Ahmad untuk menyempurnakannya,'' katanya dalam bukunya, Al-Ahmadiyyah,
Aqa'id Wa Ahdats.
Di buku yang telah diterbitkan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam
(LPPI) dengan judul Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan
Pengalaman-pengalaman itu, Audah memburaikan isi perut Ahmadiyah. Mulai dari
doktrin-doktrinnya, administrasi, sanpai keuangannya.
Soal doktrin-doktrinnya, dia mencantumkan banyaknya wahyu MGA yang
kontradiktif. Dia juga menyoroti wahyu-wahyu MGA yang sangat mendukung
Inggris--yang saat itu menjajah India, soal kengototan MGA mengawini gadis
17 tahun, dan MGA yang menggunakan ucapan-ucapan berisi caci maki dalam
'wahyu-wahyunya'--termasuk saat merendahkan Nabi Isa.
Selain itu, dia menulis bahwa menjadi penganut Ahmadiyah sangat banyak
dituntut mengeluarkan uang. Mulai dari setoran bulanan sebesar enam persen
penghasilan, 10-13 persen penghasilan untuk memesan kavling surga, serta
sumbangan untuk kegiatan tahunan seperti jalsah salanah. Total ada sekitar
10 item sumbangan yang harus disetorkan kepada pimpinan Ahmadiyah, yang
berakhir di Jemaat Ahmadiyah Pusat di London. Audah mengatakan dana itu
dalam pengawasan langsung khalifah, dan tak seorang pun mengetahui
dikemanakan dana-dana itu.
*Jumlah pengikut*
Saat ini, pihak Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengklaim penganut
Ahmadiyah telah mencapai 150 juta, tersebar di 120 negara. Adapun di
Indonesia, jumlah penganutnya 500 ribu. Soal klaim-klaim, Audah menilainya
banyak yang kebesaran. Mirza Thahir yang merupakan khalifatul masih IV,
dalam wawancaranya dengan Sunday Times, Desember 1989 lalu, kata Audah,
menyatakan pengikut Ahmadiyah hanya sekitar 10 juta, tersebar di 80 negara.
Jumlah 10 juta itu pun dinilai Audah meragukan.
Dari 80 negara atau 120 negara, Audah menyatakan sebenarnya kebanyakan hanya
1-1.000 orang Ahmadiyah di setiap negara. Di Cina, bisa dihitung dengan
jari. Di Mesir, hanya 30-40 orang. Di Inggris yang merupakan pusatnya, hanya
8.000-an orang. Itu pun imigran Pakistan. Negara-negara yang penganut
Ahmadiyahnya besar, hanya di Pakistan, Ghana, dan Nigeria. ''Padahal, ajaran
ini telah berumur hampir 100 tahun,'' kata Audah. Propaganda-propaganda
lewat Muslim Television Ahmadiyyah (MTA) soal besarnya jumlah penganut
Ahmadiyah, kata Audah, sebenarnya hanya menipu diri.
Di Indonesia, penganut Ahmadiyah tak diketahui pasti. Yang terbesar
terkonsentrasi di dua tempat, yaitu Manis Lor dan Pancor, Lombok Tengah,
NTB. Di Manis Lor, Ahmadiyah yang masuk tahun 1954, kini dianut 70 persen
dari 4.200 jiwa. Di NTB, jumlah mereka disinyalir hanya beberapa ribu. Di
Kampus Mubarak, Parung, Bogor, yang merupakan markas pusat JAI, juga tak
banyak orang Ahmadiyah. Saat Republika mengunjungi tempat itu, Ketua RT
03/04, Ismat, mengatakan hanya ada 12 kepala keluarga (KK) di RT 03. Belasan
KK lainnya di RT 01. ''Tapi, rumah-rumah mereka sering kosong,'' katanya.
Alhasil, klaim 500 ribu penganut Ahmadiyah di Indonesia memang tanda tanya
besar. Seperti markas pusatnya di London, yang ditonjolkan JAI adalah jumlah
cabang. Pada 2005, misalnya, JAI mengklaim memiliki 305 cabang di seluruh
Indonesia. Saat datang ke Indonesia, Khalifah Mirza Tahir, juga mendatangi
Manis Lor, Juni 2000 lalu. Pulang dari Indonesia, Mirza Tahir berkata kepada
majalah Al Fadhl International edisi Juli 2000: ''Saya tegaskan kepada
kalian bahwa Indonesia pada akhir abad baru ini, akan menjadi negara
Ahmadiyah terbesar di dunia ....''
Kata-kata seorang khalifah, bagi warga Ahmadiyah, tak ubahnya separuh wahyu,
bahkan wahyu--karena mereka meyakini wahyu tak terputus. Tapi, yang terjadi
dalam kenyataan malah sebaliknya. Warga Muslim NTB marah atas adanya
penganut ajaran itu dan membuat warga Ahmadiyah terusir. Di Bogor, warga
yang gerah telah menutup Kampus Mubarak. Di Manis Lor, sampai saat ini
suasananya seperti bara dalam sekam. Di berbagai sudut jalan, tergantung
pengumuman anti-Ahmadiyah.
Junaidi, ketua Remaja Masjid Al Huda, Manis Lor, mengatakan warga telah
berupaya mengembalikan warga Ahmadiyah kepada Islam. ''Kami sayang kepada
mereka karena mereka adalah saudara kami. Kami hanya ingin mereka kembali
pada ajaran Islam yang sesungguhnya. Itu saja,'' katanya.
Sejumlah ulama sebelumnya juga mengajak penganut Ahmadiyah untuk ruju'ilal
haq atau kembali kepada kebenaran. Sebelumnya, MUI dan ormas-ormas Islam
bersedia membuka pintu untuk membimbing warga Ahmadiyah. Bangsa ini memang
tak membutuhkan Ahmadiyah dan Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku nabi dan
memperjualbelikan kavling surga. lis/osa/run/RioL


No comments:
Post a Comment