Seminggu pasca publikasi film anti-Islam Geert Wilders, Fitna, dunia tidak guncang seperti diperkirakan Wilders. Timur Tengah kalem, Belanda sendiri tenang, dan Indonesia tetap mantap, kembali ke rutin keseharian. Respons Indonesia juga "cukup bagus", simpul Syafei'i Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah menanggapi anti-klimaks Wilders.
Demo dan insiden kecil telah berlalu, dan beberapa kalangan mulai membenamkan diri untuk berefleksi. Wilders membaca al Qur'an salah, persis seperti teroris Amrozi. "Apa yang ditunjukkan Wilders benar, tapi metodenya, salah!" ujar Nong Darol Mahmada, aktivis perempuan dan salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal JIL, kepada Radio Nederland Wereldomroep.
Sebulan yang lalu, dunia, pemerintah asing dan kelompok Muslim masih cemas akan apa yang bakal terjadi apabila politikus Belanda Geert Wilders meluncurkan filmnya yang anti al Qur'an dan Islam itu. Majalah Sabili, dari kalangan Muslim radikal Indonesia, misalnya, awal Februari lalu dalam komentarnya berjudul "Skenario Armageddon dari Amsterdam," meramalkan geger dunia.
"Belanda," kami kutip, "dalam bahaya, baik dalam atau luar negeri. Umat Islam dunia akan mengamuk. Bendera Merah Putih Biru akan dibakar di mana-mana. Kedutaan dan kepentingan Belanda di negeri-negeri Muslim akan dibakar. Banyak korban jatuh, bahkan meninggal". Demikian Sabili edisi no 15 sambil mengutip koran Belanda Dag 16 Januari.
Meleset
Namun, sama sekali meleset. Geger kecil di sana sini terjadi, demo Front Pembela Islam FPI dan HTI, Hisbut Tahrir, sempat ramai di muka Kedutaan Besar Belanda di Kuningan, Jakarta, namun tak ada insiden yang berarti. Brimob yang berjaga-jaga hanya mencatat beberapa telur busuk dilempar ke dalam wilayah kedutaan. Duta Besar Belanda Nikolaos van Dam tidak perlu diungsikan seperti nasib Duta Besar Denmark dalam demo yang memprotes kartun Nabi, dua tahun silam, di Jakarta.
Pengamat politik di Jakarta umumnya sepakat bahwa para pemimpin agama di Indonesia dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan percaturan diplomatiknya yang baik dengan pemerintahan PM Jan Peter Balkenende di Den Haag, berhasil mengatasi situasi dengan elegan. Tanggapan dan surat-menyurat ulama di bawah pimpinan Kyai Haji Hasyim Muzadi dari Nahdlatul Ulama, dan langkah-langkah Presiden SBY yang melarang film Fitna dan mencekal Geert Wilders, dinilai "tepat". Di Jakarta antisipasi pimpinan negara dan ulama itu dinilai "bagus".
Trend
Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Syafi'ie Maarif, kepada Radio Nederland juga menyatakan pujiannya, senada dengan kalangan Jaringan Islam Liberal. Menurut Maarif, semua ini menunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia sudah "cukup dewasa." Maarif, yang pernah memimpin ormas Islam kedua terbesar di Indonesia ini, menunjuk, dewasa ini "suara-suara radikal yang biasanya vokal, kini cenderung diam."
Perkembangan ini tampaknya juga dipengaruhi oleh kesibukan politik dan maraknya isu-isu hangat dalam negeri seperti soal Gubernur BI, harga beras dan minyak yang naik, dan kekhawatiran kenaikan harga-harga BBM dan defisit APBN, menyerap banyak perhatian publik.
Ketenangan pasca-film Fitna itu juga sejalan dengan trend yang banyak dicatat belakangan ini. Survey-survey menunjukkan partai-partai berbasis agama belakangan makin tak populer. Suara-suara pro pluralisme mendesak dan banyak disuarakan partai-partai agama yang besar maupun kecil. Paling jelas, Partai Keadilan Sejahtera PKS, kini terdesak agar menjadi partai terbuka saja.
Suara lain
Betapa pun, kasus Geert Wilders dan film Fitnanya toh tak akan berlalu begitu saja di negeri bermayoritas Muslim terbesar ini. Hujatan dan kritik pedas telah kita dengar, tapi menarik pula dicatat, adanya suara-suara lain yang mencoba memetik hikmah dan pelajaran dari provokasi agresif Wilders itu.
Syafe'i Maarif menyatakan dirinya sulit mengerti mengapa Geert Wilders merasa perlu mengambil risiko besar dengan meluncurkan film Fitna. Dia mengakui masih ada kalangan Muslim yang cenderung buta dan radikal dalam menunaikan imannya. Melalui telpon, Maarif mengulangi pernyataannya bahwa "Al Qur'an jauh lebih toleran ketimbang sebagian umat Islam." "Baca saja ayat-ayat surat Yunus 99, al Baqarah 256, dan banyak sekali yang lain," demikian Syafii Maarif.
Kritik diri
Rektor UIN, Universitas Islam Negeri Komaruddin Hidayat malah mencatat kasus Wilders dan Fitna perlu kita manfaatkan untuk melakukan kritik diri. Kepada Green Radio, dulu Radio Utan Kayu, Komaruddin menganjurkan tak usah bereaksi berlebihan, malah kita perlu memberi apresiasi yang layak, dan memberanikan kritik-diri.
Gus Dur, alias Abdurrahman Wahid, yang dianggap tokoh Muslim paling liberal di Indonesia, lebih suka sibuk membenahi keributan di dalam partainya, PKB, seolah-olah tak peduli keramean seputar film Fitna. Reaksinya bisa ditebak: "Gitu aja kok repot!"
Tapi Nong Darol Mahmada, perempuan Banten, jebolan UIN Jakarta, dan salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal JIL, berpendapat, kita perlu repot, maksudnya, perlu mempelajari dengan kritis film Fitna-nya Wilders itu.
Setuju tapi tak setuju
Jelas, Geert Wilders sangat selektif dalam memilih kutipan dan gambar-gambar untuk filmnya. Tetapi, yang lebih serius, Wilders mencabut kutipan-kutipan ayat tersebut dari konteks sosial dan historisnya. Misalnya, dapatkah kutipan pertama dari Surah 8 yang disugestikannya seolah dimaksud memacu aksi teror zaman sekarang. Nong Darol menjelaskan:
| Nong Darol Mahmada |
"Sebenarnya ini mungkin bukan persiapan teror. Ini adalah semacam ayat al Qur'an yang menjadi justifikasi buat para jihadis, kan. Bahwa dalam al Qur'an itu dikatakan, siapa pun yang melakukan perang, atau jihad atas nama Tuhan untuk menghancurkan atau di dalam terjemahan di sini itu menggentarkan, menggentarkan itu membuat takut musuh kita, itu akan mendapatkan pahala. Dan dia tidak akan dianiaya.
Tidak akan sama sekali dirugikan. Akan mendapatkan pahala dari Allah, ya berupa surga di akhirat nanti. Makanya, pelaku-pelaku yang menabrakkan dirinya langsung itu karena ada janji di sini bahwa mereka itu akan mendapatkan pahala itu mendapat justifikasi yang sangat solid ya dari al Qur'an."
Nong Darol, yang dulu sering dikejar aktivis muslim radikal, membenarkan banyak ayat yang bersubstansi kekerasan dan menyayangkan ada sikap konsistensi yang diskriminatif terhadap kelompok lain seperti kafir, non Islam, pada umumnya dan Yahudi pada khususnya. Karena itu, dia berpendapat, Geert Wilders benar, dan mungkin juga, perlu untuk menggugah, tetapi metodenya sama saja dengan kalangan fundamentalis yang membaca al Quran secara harafiah.
Nong Darol Mahmada: "Saya rasa bahwa kalau Islam dipahami seperti ini, maka ini seperti membajak Islam yang sebenarnya. (Jadi Anda setuju dengan pandangan Wilders, tetapi tidak setuju dengan caranya? ) Iyaa!"


No comments:
Post a Comment