Friday, April 18, 2008

'Nabi' pelayan Imperialis, 'Islam' tak Butuh Mirza Ghulam Ahmad

Februari lalu, sebuah surat mampir ke meja Direktur Jenderal Bimbingan
Masyarakat Islam Departemen Agama (Depag), Nasaruddin Umar. Pengirimnya
empat negara sekaligus, di antaranya Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada.
Mereka meminta Ahmadiyah tak dibubarkan. ''Suratnya ditujukan kepada Menteri
Agama dan ada tembusannya ke saya,'' ungkap Nasarudin kepada Republika, di
Jakarta, beberapa waktu lalu. Lantas, apa yang akan dilakukan Depag? ''Itu
tidak akan mempengaruhi apa-apa. Kita tak mau didikte negara lain.''

Saat surat itu datang. Badan Koordinasi Aliran Kepercayaan (Bakorpakem)
memang sedang memantau 12 poin penjelasan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah
Indonesia (PB JAI) di seluruh Indonesia. Bila 12 poin tak sesuai kenyataan,
Bakorpakem berjanji bertindak tegas.

Mengapa negara lain sampai perlu melakukan intervensi? Merujuk fakta
sejarah, semuanya menjadi masuk akal. Hubungan Inggris dengan Mirza Ghulam
Ahmad (MGA) dan keluarganya memang mesra. 'Nabi' MGA berjasa menyerukan
penghapusan jihad saat India dijajah Inggris.

Hasan bin Mahmud Audah, mantan direktur umum Seksi Bahasa Arab Jemaat
Ahmadiyah Pusat di London, menilai hubungan MGA dan Inggris tak ubahnya
hubungan seorang pelayan kepada majikannya. Bukan semata hubungan terima
kasih seorang Muslim pada orang yang berjasa padanya.

Di Ruhani Khazain hlm 36, MGA menyatakan: ''*Tidak samar lagi, atas
pemerintah yang diberkahi ini (Britania), saya termasuk dari pelayannya,
para penasihatnya, dan para pendoa bagi kebaikannya dari dahulu, dan di
setiap waktu aku datang kepadanya dengan hati yang tulus.*''

Di Ruhain Khazain hlm 155, MGA menulis: '*'Sungguh aku telah menghabiskan
kebanyakan umurku dalam mengokohkan dan membantu pemerintahan Inggris. Dan
dalam mencegah jihad dan wajib taat kepada pemerintah (Inggris), aku telah
mengarang buku-buku, pengumuman-pengumuman, dan brosur-brosur yang apabila
dikumpulkan tentu akan memenuhi 50 lemari.*''

Tengok pula Ruhani Khazain hlm 28: ''*Sungguh telah dibatalkan pada hari ini
hukum jihad dengan pedang. Maka tidak ada jihad setelah hari ini. Barang
siapa mengangkat senjata kepada orang-orang kafir, maka dia telah menentang
Rasulullah... sesungguhnya saya ini adalah Al Masih yang ditunggu-tunggu.
Tidak ada jihad dengan senjata setelah kedatanganku ini.*''

MGA yang mengaku nabi, rasul, almaasih, almahdi, brahman avatar, krishna,
dan titisan nabi-nabi, teryata tunduk belaka di hadapan Ratu Victoria. *
Audah* dalam bukunya *Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan
Pengalaman-pengalaman* : ''*Perbuatan tidak bermalu Mirza Ghulam 'sang nabi'
merendahkan diri depan Ratu Victoria... tak bisa saya terima, bahkan saat
saya masih sebagai seorang Ahmadi sejati.*''

Pengabdian pada Inggris itu sudah dilakukan leluhur MGA sejak tahun 1830-an.
Saat itu, India yang masih dikuasai Muslim, menghadapi dua kekuatan: Inggris
dan kaum Sikh. Dalam perang sabil menghadapi kedua kekuatan itu, keluarga
Mirza memihak kaum Sikh dan Inggris.
Fakta tersebut diungkap *Bashiruddin Mahmud Ahmad*, anak MGA yang juga
khalifatul masih II dalam bukunya, Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad. Leluhur
MGA merupakan pemimpin tentara yang membantu Maharaja *Ranjit Singh*, *Jenderal
Nicholson*, dan *Jenderal Ventura*.

Dalam bukunya, Bashiruddin tak menjelaskan konteks pemberian bantuan itu.
Dia mengungkapkannya layaknya sebuah kehormatan besar bagi keluarganya.
Namun fakta sejarah memang tak bisa ditutupi, betapa yang diserang Ranjit
Sing, Nicholson, dan Ventura, adalah umat Islam.

''*Keuntungan yang utama bagi Inggris karena munculnya Almasih dan Imam
Mahdi itu adalah timbulnya perpecahan di kalangan ummat Islam yang tidak
bisa dielakkan lagi,*'' demikian kesimpulan Abdullah Hasan Alhadar dalam
bukunya Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah.

Saat masalah pertentangan soal Ahmadiyah mencapai puncaknya di Pakistan dan
konstitusi negara itu akhirnya mencantumkan bahwa penganut Ahmadiyah
merupakan non-Muslim, terjadilah ketegangan. Buntutnya, kekhalifahan
Ahmadiyah yang mirip 'dinasti' itu hengkang dari Pakistan.

Sejak tahun 1985, kekhalifahan tersebut berkedudukan di London, Inggris. Di
sana, sejak tahun 1994, Ahmadiyah memiliki sebuah corong untuk menyebarkan
ajarannya, yaitu *Muslim Television Ahmadiyyah* (MTA). Perlu dana luar biasa
besar untuk melakukan siaran empat bahasa itu.

Audah yang merupakan mantan orang dalam di markas pusat Ahmadiyah,
berkomentar tak mungkin televisi itu dijalankan dengan biaya dari sumbangan
orang-orang Ahmadiyah. ''Kami tidak mendapat informasi akurat mengenai
identitas orang yang memberi dana proyek itu.'' osa/run/RioL


*'Islam tak Butuh Mirza Ghulam Ahmad' *
sebut saja namanya Budi. Pria paruh baya yang tinggal di Desa Manis Lor, Kec
Jalaksana, Kab Kuningan, Jawa Barat, ini menjadi anggota Jemaat Ahmadiyah
pada 1983. Selama menjadi pengikut Mirza Ghulam Ahmad (MGA), dia mengaku
selalu mengalami pergolakan batin.

Sekitar 25 tahun lalu, orang-orang Ahmadiyah mendatanginya, menawarkan
bantuan materi. Budi yang sedang terlilit masalah ekonomi tentu saja senang.


Tapi, si pemberi bantuan mensyaratkan masuk Ahmadiyah. Tak begitu memahami
hakikat Ahmadiyah, Budi mau saja dibaiat. Tapi, setelah resmi menjadi
penganut Ahmadiyah, Budi mulai merasakan kejanggalan. Antara lain, soal
adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Budi juga tak bisa lagi shalat di
sembarang masjid, karena penganut Ahmadiyah dilarang shalat di belakang imam
non-Ahmadi.

Selain itu, Budi juga diharuskan menyetorkan uang pengorbanan sebesar 10
persen dari total penghasilan setiap bulan. Sesuatu yang dinilainya
memberatkan. ''Karena miskin, mereka suka 'tidak menganggap' dan sepertinya
memandang sebelah mata ke saya,'' kata Budi dengan logat Sunda.

Budi juga minder karena tak mampu membeli 'kavling surga'. Padahal, hanya
bila dikubur di tempat itulah, mereka mendapat jaminan masuk surga. Sudah 20
orang yang dikuburkan di sana, setelah membayar jutaan rupiah. Adanya
doktrin-doktrin yang tak lazim yang berlawan dengan yang didapatnya selama
ini, dan tak leluasa lagi bergaul dengan masyarakat, membuat batin Budi
bergolak. 'Hidup saya terasa mengambang, jauh dari ketenangan,'' kata Budi
kepada Republika di Manis Lor, beberapa waktu lalu.

Selama bertahun-tahun, Budi mengabaikan pergolakan batinnya, sampai akhirnya
dia tak tahan lagi. Awal 2008, dia memutuskan keluar. ''Saya sekarang lebih
tenang, tidak dikejar-kejar pengurus Ahmadiyah yang menagih uang
pengorbanan. Saya juga bisa shalat Jumat di mana saja.'' Orang seperti Budi
tak sedikit. Hasan Mahmud Audah, direktur umum seksi bahasa Arab Jemaat
Ahmadiyah yang berpusat di London, juga keluar dari ajaran Mirzaiyah itu
pada 17 Juli 1989.

Padahal, sebelumnya dia adalah seorang mubaligh Ahmadiyah dan pernah menetap
lama di Qadian. ''Menurut pendapat saya, Islam itu telah tampak dalam
keadaan sempurna dengan Nabi Muhammad SAW dan tidak membutuhkan Mirza Ghulam
Ahmad untuk menyempurnakannya,'' katanya dalam bukunya, Al-Ahmadiyyah,
Aqa'id Wa Ahdats.

Di buku yang telah diterbitkan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam
(LPPI) dengan judul Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan
Pengalaman-pengalaman itu, Audah memburaikan isi perut Ahmadiyah. Mulai dari
doktrin-doktrinnya, administrasi, sanpai keuangannya.

Soal doktrin-doktrinnya, dia mencantumkan banyaknya wahyu MGA yang
kontradiktif. Dia juga menyoroti wahyu-wahyu MGA yang sangat mendukung
Inggris--yang saat itu menjajah India, soal kengototan MGA mengawini gadis
17 tahun, dan MGA yang menggunakan ucapan-ucapan berisi caci maki dalam
'wahyu-wahyunya'--termasuk saat merendahkan Nabi Isa.

Selain itu, dia menulis bahwa menjadi penganut Ahmadiyah sangat banyak
dituntut mengeluarkan uang. Mulai dari setoran bulanan sebesar enam persen
penghasilan, 10-13 persen penghasilan untuk memesan kavling surga, serta
sumbangan untuk kegiatan tahunan seperti jalsah salanah. Total ada sekitar
10 item sumbangan yang harus disetorkan kepada pimpinan Ahmadiyah, yang
berakhir di Jemaat Ahmadiyah Pusat di London. Audah mengatakan dana itu
dalam pengawasan langsung khalifah, dan tak seorang pun mengetahui
dikemanakan dana-dana itu.

*Jumlah pengikut*
Saat ini, pihak Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengklaim penganut
Ahmadiyah telah mencapai 150 juta, tersebar di 120 negara. Adapun di
Indonesia, jumlah penganutnya 500 ribu. Soal klaim-klaim, Audah menilainya
banyak yang kebesaran. Mirza Thahir yang merupakan khalifatul masih IV,
dalam wawancaranya dengan Sunday Times, Desember 1989 lalu, kata Audah,
menyatakan pengikut Ahmadiyah hanya sekitar 10 juta, tersebar di 80 negara.
Jumlah 10 juta itu pun dinilai Audah meragukan.

Dari 80 negara atau 120 negara, Audah menyatakan sebenarnya kebanyakan hanya
1-1.000 orang Ahmadiyah di setiap negara. Di Cina, bisa dihitung dengan
jari. Di Mesir, hanya 30-40 orang. Di Inggris yang merupakan pusatnya, hanya
8.000-an orang. Itu pun imigran Pakistan. Negara-negara yang penganut
Ahmadiyahnya besar, hanya di Pakistan, Ghana, dan Nigeria. ''Padahal, ajaran
ini telah berumur hampir 100 tahun,'' kata Audah. Propaganda-propaganda
lewat Muslim Television Ahmadiyyah (MTA) soal besarnya jumlah penganut
Ahmadiyah, kata Audah, sebenarnya hanya menipu diri.

Di Indonesia, penganut Ahmadiyah tak diketahui pasti. Yang terbesar
terkonsentrasi di dua tempat, yaitu Manis Lor dan Pancor, Lombok Tengah,
NTB. Di Manis Lor, Ahmadiyah yang masuk tahun 1954, kini dianut 70 persen
dari 4.200 jiwa. Di NTB, jumlah mereka disinyalir hanya beberapa ribu. Di
Kampus Mubarak, Parung, Bogor, yang merupakan markas pusat JAI, juga tak
banyak orang Ahmadiyah. Saat Republika mengunjungi tempat itu, Ketua RT
03/04, Ismat, mengatakan hanya ada 12 kepala keluarga (KK) di RT 03. Belasan
KK lainnya di RT 01. ''Tapi, rumah-rumah mereka sering kosong,'' katanya.

Alhasil, klaim 500 ribu penganut Ahmadiyah di Indonesia memang tanda tanya
besar. Seperti markas pusatnya di London, yang ditonjolkan JAI adalah jumlah
cabang. Pada 2005, misalnya, JAI mengklaim memiliki 305 cabang di seluruh
Indonesia. Saat datang ke Indonesia, Khalifah Mirza Tahir, juga mendatangi
Manis Lor, Juni 2000 lalu. Pulang dari Indonesia, Mirza Tahir berkata kepada
majalah Al Fadhl International edisi Juli 2000: ''Saya tegaskan kepada
kalian bahwa Indonesia pada akhir abad baru ini, akan menjadi negara
Ahmadiyah terbesar di dunia ....''

Kata-kata seorang khalifah, bagi warga Ahmadiyah, tak ubahnya separuh wahyu,
bahkan wahyu--karena mereka meyakini wahyu tak terputus. Tapi, yang terjadi
dalam kenyataan malah sebaliknya. Warga Muslim NTB marah atas adanya
penganut ajaran itu dan membuat warga Ahmadiyah terusir. Di Bogor, warga
yang gerah telah menutup Kampus Mubarak. Di Manis Lor, sampai saat ini
suasananya seperti bara dalam sekam. Di berbagai sudut jalan, tergantung
pengumuman anti-Ahmadiyah.

Junaidi, ketua Remaja Masjid Al Huda, Manis Lor, mengatakan warga telah
berupaya mengembalikan warga Ahmadiyah kepada Islam. ''Kami sayang kepada
mereka karena mereka adalah saudara kami. Kami hanya ingin mereka kembali
pada ajaran Islam yang sesungguhnya. Itu saja,'' katanya.

Sejumlah ulama sebelumnya juga mengajak penganut Ahmadiyah untuk ruju'ilal
haq atau kembali kepada kebenaran. Sebelumnya, MUI dan ormas-ormas Islam
bersedia membuka pintu untuk membimbing warga Ahmadiyah. Bangsa ini memang
tak membutuhkan Ahmadiyah dan Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku nabi dan
memperjualbelikan kavling surga. lis/osa/run/RioL

Thursday, April 17, 2008

Los Angeles Times: AS Danai Sejumlah Kelompok Teroris

Amerika Serikat, negara yang selama ini mengobarkan perang terhadap terorisme ternyata membiayai dan mendukung sejumlah kelompok teroris, termasuk kelompok bersenjata Partai Buruh Kurdistan (PKK) dan Partai Pembebasan Kurdistan (PJAK), yang tugasnya melakukan sabotase di Iran.

Hal tersebut diungkap harian Los Angeles Times mengutip pernyataan sejumlah analis yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok anti-Iran menawarkan sesuatu yang berharga untuk AS, sehingga sulit dipercaya jika mereka tidak menerima bantuan dana dari AS. Namun para analis itu juga mengatakan bahwa strategi semacam itu tidak akan berhasil.

Dalam artikelnya, Los Angeles Times mengutip keterangan mantan komandan PKK bernama Mamand Rozhe, yang menyatakan bahwa PKK ingin menjalin hubungan dengan Amerika Serikat sehingga PKK membentuk dan memanfaatkan kelompok PJAK.

Menurut Osman, sejumlah pejabat AS pernah mengunjungi kamp-kamp kelompok tersebut yang berbasis di utara Irak, tak lama setelah invasi AS ke Negeri 1001 Malam itu pada tahun 2003. Saudara laki-laki Oscalan, adalah pimpinan PKK dan salah seorang pendiri PJAK yang kini berada dalam tahanan.

"Sejak awal, kami berpikir bahwa kami akan mendapatkan bantuan dari AS. Dan sekarang mereka menjalin hubungan baik. Mereka melakukan kontak satu sama lain dan pernah ada beberapa kali bantuan militer, " kata Oscalan yang telah meninggalkan PKK dan PJAK sejak dua tahun lalu.

Selain Oscalan, beberapa orang lainnya mengungkapkan bahwa setiap dua atau tiga bulan sekali, bisa dilihat kendaraan-kendaraan militer AS masuk ke basis-basis pertahanan PKK dan PJAK. "Hubungannya tidak sistematis, tidak ada nomer yang dihubungi, " ungkap Oscalan.

Tapi, tambah Oscalan, tokoh yang selama ini disebut-sebut sebagai pimpinan PJAK bernama Abdul Rahman Haji-Ahmadi pada musim panas kemarin diketahui berkunjung ke Washington.

Lebih lanjut Oscalan mengatakan, "Amerika tidak bermaksud menjalin hubungan resmi. Setiap Turki menanyakan persoalan ini, AS selalu mengatakan bahwa mereka tidak punya hubungan dengan kelompok-kelompok itu."

Los Angeles Time menulis, para pejabat AS menolak memberikan komentar seputar isu bahwa AS memberikan bantuan dana pada PKK dan PJAK. Tapi banyak kalangan AS yang meyakini hal itu. Salah satunya John Pike, direktur situs globalsecurity, situs yang membahas isu-isu militer dan intelejen.

"Dukungan itu ditutup-tutupi dan kemungkinan dilakukan dengan cara itu, " kata Pike.

Selain PKK dan PJAK, Los Angeles Times juga menyebut MKO, Jundullah dan Partai Komala sebagai kelompok-kelompok yang diduga didanai AS. (ln/presstv)

Tuesday, April 15, 2008

Serangan Balasan, Blogger Bikin Klip Anti-Fitna


MOUNTAIN VIEW - Seorang blogger asal Saudi Arabia memposting klip balasan terhadap video film Fitna yang mengundang banyak kritik dan protes di beberapa negara Islam. Klip yang juga menyinggung unsur agama tersebut bercerita tentang pesan kitab Injil yang menganjurkan masyarakat untuk berperang dan berperilaku jahat, termasuk memperlihatkan beberapa tentara yang membantai sipil Irak.

Raed Al-Saeed, seorang blogger berusia 33 tahun, telah membuat video yang merupakan video balasan terhadap Fitna, klip anti-Islam yang dibuat oleh anggota parlemen Belanda Geert Wilders dan dipopulerkan via layanan video sharing online.

Menurut Spiegel Online, klip berjudul Schism diupload pada 1 Maret lalu. Namun, film tersebut hanya bertahan beberapa hari sebelum dihapus oleh administrator YouTube.

Raed menganggap perilaku karyawan YouTube yang menghapus filmnya dan membiarkan Fitna beredar ke seluruh dunia itu tidak adil. Oleh sebab itu, rumornya, video tersebut akan kembali dipublikasikan dalam waktu dekat.

Seperti dilansir Softpedia, Senin (14/4/2008), Indonesia dan beberapa negara Islam lainnya telah melakukan protes dan demonstrasi di depan kedutaan besar Belanda di seluruh dunia, karena video Fitna dianggap terlalu ofensif terhadap Islam.

Pemerintahan Indonesia sempat meminta YouTube untuk menghapus klip tersebut, namun, Indonesia lebih dulu memblokir semua website yang mengandung konten klip Fitna melalui ISP-nya, termasuk YouTube.

Namun, akhirnya pemblokiran terhadap website video sharing online terbesar di dunia tersebut dibatalkan mengingat banyak pihak yang komplain karena penutupan portal tersebut berdampak terhadap pasar.

Kemudian, pemerintah Indonesia tidak lagi memblokir YouTube, tapi kini akses film Fitna yang dipublikasikan di YouTube dibatasi. (mbs)

Sunday, April 6, 2008

Lalu Apa Beda Wilders dan Amrozi?

Seminggu pasca publikasi film anti-Islam Geert Wilders, Fitna, dunia tidak guncang seperti diperkirakan Wilders. Timur Tengah kalem, Belanda sendiri tenang, dan Indonesia tetap mantap, kembali ke rutin keseharian. Respons Indonesia juga "cukup bagus", simpul Syafei'i Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah menanggapi anti-klimaks Wilders.

Demo dan insiden kecil telah berlalu, dan beberapa kalangan mulai membenamkan diri untuk berefleksi. Wilders membaca al Qur'an salah, persis seperti teroris Amrozi. "Apa yang ditunjukkan Wilders benar, tapi metodenya, salah!" ujar Nong Darol Mahmada, aktivis perempuan dan salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal JIL, kepada Radio Nederland Wereldomroep.

AS_Wiilders300jpg.jpgSebulan yang lalu, dunia, pemerintah asing dan kelompok Muslim masih cemas akan apa yang bakal terjadi apabila politikus Belanda Geert Wilders meluncurkan filmnya yang anti al Qur'an dan Islam itu. Majalah Sabili, dari kalangan Muslim radikal Indonesia, misalnya, awal Februari lalu dalam komentarnya berjudul "Skenario Armageddon dari Amsterdam," meramalkan geger dunia.

"Belanda," kami kutip, "dalam bahaya, baik dalam atau luar negeri. Umat Islam dunia akan mengamuk. Bendera Merah Putih Biru akan dibakar di mana-mana. Kedutaan dan kepentingan Belanda di negeri-negeri Muslim akan dibakar. Banyak korban jatuh, bahkan meninggal". Demikian Sabili edisi no 15 sambil mengutip koran Belanda Dag 16 Januari.

Meleset
Namun, sama sekali meleset. Geger kecil di sana sini terjadi, demo Front Pembela Islam FPI dan HTI, Hisbut Tahrir, sempat ramai di muka Kedutaan Besar Belanda di Kuningan, Jakarta, namun tak ada insiden yang berarti. Brimob yang berjaga-jaga hanya mencatat beberapa telur busuk dilempar ke dalam wilayah kedutaan. Duta Besar Belanda Nikolaos van Dam tidak perlu diungsikan seperti nasib Duta Besar Denmark dalam demo yang memprotes kartun Nabi, dua tahun silam, di Jakarta.

Pengamat politik di Jakarta umumnya sepakat bahwa para pemimpin agama di Indonesia dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan percaturan diplomatiknya yang baik dengan pemerintahan PM Jan Peter Balkenende di Den Haag, berhasil mengatasi situasi dengan elegan. Tanggapan dan surat-menyurat ulama di bawah pimpinan Kyai Haji Hasyim Muzadi dari Nahdlatul Ulama, dan langkah-langkah Presiden SBY yang melarang film Fitna dan mencekal Geert Wilders, dinilai "tepat". Di Jakarta antisipasi pimpinan negara dan ulama itu dinilai "bagus".

Trend
Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Syafi'ie Maarif, kepada Radio Nederland juga menyatakan pujiannya, senada dengan kalangan Jaringan Islam Liberal. Menurut Maarif, semua ini menunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia sudah "cukup dewasa." Maarif, yang pernah memimpin ormas Islam kedua terbesar di Indonesia ini, menunjuk, dewasa ini "suara-suara radikal yang biasanya vokal, kini cenderung diam."

Perkembangan ini tampaknya juga dipengaruhi oleh kesibukan politik dan maraknya isu-isu hangat dalam negeri seperti soal Gubernur BI, harga beras dan minyak yang naik, dan kekhawatiran kenaikan harga-harga BBM dan defisit APBN, menyerap banyak perhatian publik.

Ketenangan pasca-film Fitna itu juga sejalan dengan trend yang banyak dicatat belakangan ini. Survey-survey menunjukkan partai-partai berbasis agama belakangan makin tak populer. Suara-suara pro pluralisme mendesak dan banyak disuarakan partai-partai agama yang besar maupun kecil. Paling jelas, Partai Keadilan Sejahtera PKS, kini terdesak agar menjadi partai terbuka saja.

Suara lain
Betapa pun, kasus Geert Wilders dan film Fitnanya toh tak akan berlalu begitu saja di negeri bermayoritas Muslim terbesar ini. Hujatan dan kritik pedas telah kita dengar, tapi menarik pula dicatat, adanya suara-suara lain yang mencoba memetik hikmah dan pelajaran dari provokasi agresif Wilders itu.

Syafe'i Maarif menyatakan dirinya sulit mengerti mengapa Geert Wilders merasa perlu mengambil risiko besar dengan meluncurkan film Fitna. Dia mengakui masih ada kalangan Muslim yang cenderung buta dan radikal dalam menunaikan imannya. Melalui telpon, Maarif mengulangi pernyataannya bahwa "Al Qur'an jauh lebih toleran ketimbang sebagian umat Islam." "Baca saja ayat-ayat surat Yunus 99, al Baqarah 256, dan banyak sekali yang lain," demikian Syafii Maarif.

Kritik diri
Rektor UIN, Universitas Islam Negeri Komaruddin Hidayat malah mencatat kasus Wilders dan Fitna perlu kita manfaatkan untuk melakukan kritik diri. Kepada Green Radio, dulu Radio Utan Kayu, Komaruddin menganjurkan tak usah bereaksi berlebihan, malah kita perlu memberi apresiasi yang layak, dan memberanikan kritik-diri.

Gus Dur, alias Abdurrahman Wahid, yang dianggap tokoh Muslim paling liberal di Indonesia, lebih suka sibuk membenahi keributan di dalam partainya, PKB, seolah-olah tak peduli keramean seputar film Fitna. Reaksinya bisa ditebak: "Gitu aja kok repot!"

Tapi Nong Darol Mahmada, perempuan Banten, jebolan UIN Jakarta, dan salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal JIL, berpendapat, kita perlu repot, maksudnya, perlu mempelajari dengan kritis film Fitna-nya Wilders itu.

Setuju tapi tak setuju
Jelas, Geert Wilders sangat selektif dalam memilih kutipan dan gambar-gambar untuk filmnya. Tetapi, yang lebih serius, Wilders mencabut kutipan-kutipan ayat tersebut dari konteks sosial dan historisnya. Misalnya, dapatkah kutipan pertama dari Surah 8 yang disugestikannya seolah dimaksud memacu aksi teror zaman sekarang. Nong Darol menjelaskan:

AS_Nong_Darol_Mahmada300.jpg
                      Nong Darol Mahmada

"Sebenarnya ini mungkin bukan persiapan teror. Ini adalah semacam ayat al Qur'an yang menjadi justifikasi buat para jihadis, kan. Bahwa dalam al Qur'an itu dikatakan, siapa pun yang melakukan perang, atau jihad atas nama Tuhan untuk menghancurkan atau di dalam terjemahan di sini itu menggentarkan, menggentarkan itu membuat takut musuh kita, itu akan mendapatkan pahala. Dan dia tidak akan dianiaya.

Tidak akan sama sekali dirugikan. Akan mendapatkan pahala dari Allah, ya berupa surga di akhirat nanti. Makanya, pelaku-pelaku yang menabrakkan dirinya langsung itu karena ada janji di sini bahwa mereka itu akan mendapatkan pahala itu mendapat justifikasi yang sangat solid ya dari al Qur'an."

Nong Darol, yang dulu sering dikejar aktivis muslim radikal, membenarkan banyak ayat yang bersubstansi kekerasan dan menyayangkan ada sikap konsistensi yang diskriminatif terhadap kelompok lain seperti kafir, non Islam, pada umumnya dan Yahudi pada khususnya. Karena itu, dia berpendapat, Geert Wilders benar, dan mungkin juga, perlu untuk menggugah, tetapi metodenya sama saja dengan kalangan fundamentalis yang membaca al Quran secara harafiah.

Nong Darol Mahmada: "Saya rasa bahwa kalau Islam dipahami seperti ini, maka ini seperti membajak Islam yang sebenarnya. (Jadi Anda setuju dengan pandangan Wilders, tetapi tidak setuju dengan caranya? ) Iyaa!"

Film FITNA Ditampilkan: Mushaf Elektronik Malah Habis Di Pasaran, 3 WN BELANDA Masuk Islam!!


image"Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS. Ali 'Imran:54).

Sejumlah sumber di Belanda, Ahad menegaskan, perpustakaan Belanda dalam minggu-minggu lalu menyaksikan kunjungan yang luar biasa banyaknya terhadap buku-buku Islam di Amsterdam. Orang-orang Belanda membeli dalam jumlah besar mushaf-mushaf elektronik yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, sehingga hampir habis di pasar dalam dua hari yang lalu. Sementara 3 orang menyatakan masuk Islam dalam seminggu ini. Sumber-sumber itu menyambut baik reaksi dingin kalangan komunitas Islam di Belanda, dan sikap bijakasana yang diambil generasi kedua umat Islam yang hidup di negara eropa itu.

Hal ini menjadikan kasus yang menimpa mereka pasca ditampilkannya film anti Islam 'Fitna' yang dibuat seorang anggota parlemen Belanda bernama Geert Wilders mendapat simpati yang besar dari masyarakat.

Surat kabar 'De Telegraaf', berbahasa Belanda menampakkan propaganda anti film tersebut yang direpresentasikan melalui workshop dialog, bersama kalangan intelektual dan pers Belanda. Dialog itu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar al-Qur`an al-Karim sebagai kitab ibadah dan hidayah, serta penjelasan bahwa apa yang dilakukan Geert dalam filmnya itu merupakan sesuatu yang telah keluar jalur.

Surat kabar itu itu dalam halaman intinya mempublikasikan poto walikota Amsterdam berdarah Yahudi, That Cohen saat ia menyalami seorang pemilik penerbitan sekaligus tokoh pers Arab Saudi, Isham Mudir setelah berakhirnya konferensi pers oleh komunitas Muslim yang diadakan di masjid al-Ummah, ba'da shalat Jum'at yang lalu. Cohen dikenal sebagai seorang yang memiliki sikap yang objektif terhadap kaum Muslimin.

Pemuda Muslim dari generasi kedua di negeri itu juga mengadakan workshop dialog di pinggiran Mir, Amsterdam malam Jum'at untuk mengantisipasi implikasi film yang sempat mereka tonton tayangannya. Di tengah workshop tersebut, salah seorang warga Belanda menyatakan masuk Islam. Dengan begitu, ia menjadi orang Belanda ketiga yang melakukan hal yang sama (masuk Islam-red) sepanjang satu minggu ini. Ini mungkin sebagai reaksi atas sebuah ungkapan di akhir film itu yang berbunyi, 'Hentikan Islamisasi Eropa.!'

Tuesday, April 1, 2008

Indonesia Segera Blokir YouTube!

Screenshot Fitna (ist)
Jakarta - Akses terhadap situs YouTube terancam diblokir bila dalam dua hari tidak membuang Fitna dari content mereka. Aksi pemblokiran akan dilakukan oleh ISP se-Indonesia dengan koordinasi Depkominfo.

Demikian kata Menkominfo M. Nuh menjawab pertanyaaan wartawan usai upacara pengesahan Mahfud MD sebagai hakim MK di Istana Negara, Jakarta (Selasa, 1/4/1008).

"Batas waktunya dua hari (sejak hari ini). Bila sampai waktu itu Fitna belum juga di-remove, kita (akan) bekerjasama dengan ISP akan memblokir YouTube," kata dia.

Menurut M. Nuh surat permintaan Pemerintah RI terhadap pengelola YouTube telah dilayangkan pagi ini. Demi memperkuat permintaan tersebut, di dalam surat itu disertai contoh kasus permintaan Pemerintah Kerajaan Thailand agar film yang menghina Raja Thailand di cabut.

"Kan pengelola YouTube yang tanggung jawab atas isi situs. Tidak mungkin kan kita yang edhel-edhel (mengacak-acak - red.) muatan situsnya," jelas mantan rektor ITS ini.

Setujukah Anda dengan rencana pemerintah memblokir situs YouTube ini? Berikan opini Anda di thread khusus detikINET Forum. ( lh / dbu )