Sunday, March 30, 2008

Pemimpin Agama Indonesia Prihatin Dengan Film Fitna

Jauh sebelum film Fitna buatan anggota parlemen Belanda Geert Wilders keluar, paraBalkenende pemimpin agama Indonesia sudah menulis surat kepada Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkende. Dan sebelum film itu akhirnya keluar Kamis malam lalu waktu Belanda, Perdana Menteri Balkenende menjawab surat itu, menjanjikan langkah-langkah terhadap Geert Wilders begitu ia mengumumkan filmnya. Salah satu pemimpin agama yang menerima surat jawaban dari Perdana Menteri Belanda adalah K.H. Hasyim Muzadi. Kepada Radio Nederland, ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi menjelaskan isi surat perdana menteri Belanda itu.

Surat dari kalangan agama
Hasyim Muzadi [HM]: Kita kirim surat kepada perdana menteri, bersama-sama. Jadi atas nama pimpinan Islam yang diwakili oleh NU dan Muhammadiyah lalu Monsigneur, Ketua Katholik Indonesia serta Ketua Kristen Protestan Indonesia, sama Hindu. Ini kita mengirim surat bersama-sama ke Perdana Menteri Belanda yang isinya, pertama, sangat keberatan dengan video Fitna itu, yang kedua minta dengan hormat agar pemerintah Belanda, secara maksimal mencegah diedarkannya video itu.

Supaya tidak terjadi fitnah di Indonesia dan di seluruh dunia. Karena itu bisa bertikai. Bukan hanya di Belanda tapi di seluruh dunia bahkan bisa jadi konflik antar agama. Kemudian dijawab. Isinya pertama bahwa perdana menteri sependapat dengan kami, tokoh-tokoh agama di Indonesia. Yang kedua pemerintah Belanda akan berusaha keras untuk membendung peredaran itu termasuk ke internet, lalu yang ketiga, berharap agar seluruh masyarakat dunia dari agama-agama bisa mempersatukan diri tidak melakukan konflik-konflik.

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Tapi menurut Pak Hasyim Muzadi sendiri, bagaimana jawaban seperti itu pak?

HM: Ya, saya kira baguslah, artinya merespon begitu. Bahwa Belanda tidak dalam kapasitas menyetujui. Bahwa tidak bisa dicegah waktu dini, karena faktor demokrasi yang berlangsung di Negeri Belanda. Kita paham dengan itu.

RNW: Yang jadi masalah adalah bahwa kebebasan berpendapat itu, merupakan landasan bagi pembuatnya yaitu Geert Wilders. Apakah kebebasan berpendapat ini menurut pak Hasyim Muzadi layak dijadikan alasan untuk misalnya dalam hal ini menghina agama islam?

Tidak ada kebebasan mutlak
HM: Saya kira tidak layak. Karena di dunia ini, sepanjang zaman tidak ada kebebasan mutlak. Setiap kebebasan dibatasi dengan kebebasan orang lain. Kalau itu dianggap kebebasan, lalu menghina kebebasan juga orang beragama islam, kan pasti tidak logis kebebasan itu. Jadi kebebasan selalu harus dibatasi dengan kebebasan orang lain. Yang kedua kebebasan itu, tidak termasuk kebebasan untuk merusak.

RNW: Surat yang bapak kirim bersama tokoh-tokoh agama lain ke perdana menteri Belanda itu, meminta supaya pemerintah Belanda berbuat semaksimal mungkin. Apakah jawaban itu menunjukkan bahwa pemerintah Belanda sudah berbuat semaksimal mungkin pak?

HM: Paling tidak dia merasa mempersiapkan diri gitu kan. Nah, nanti kita lihat betul-betul terjadi apa tidak kan gitu. Kalau betul-betul terjadi kemudian ada ekses dari padanya tentu hukum Belanda bisa bertindak. Karena menurut penjelasan Duta Besar Belanda yang di Indonesia, hukum Belanda tidak bisa menghakimi pikiran orang yang masih dalam pikiran gitu.

RNW: Dan itu menurut bapak bisa diterima penjelasan semacam itu?

HM: Saya kira selama belum diactionkan ya, bisa diterima. Tapi kalau diactionkan ternyata membuat keributan, maka hukum harus bertindak. Baik hukum Belanda mau pun hukum internasional karena telah menciptakan kekacauan pada lingkungan masyarakat kan gitu.

RNW: Selama ini kan, NU dikenal sebagai organisasi yang moderat pak ya, tidak ikut dalam segala macam ribut-ribut bahkan anti teroris yang banyak dilakukan oleh kalangan-kalangan yang lebih fanatik. Mengapa pak Hasyim Muzadi merasa perlu untuk menulis surat semacam ini?

Langkah preventif
HM: Ya, karena itu nanti akan merangsang terorisme. Orang-orang akan menggunakan langkah Wilders itu, sebagai alasan untuk melakukan teror.

Jadi teror itu kan ada dua macam. Ada teror karena memang wacana agamanya salah, sehingga atas nama agama dia melakukan teror. Tetapi ada juga yang dia mereaksi karena serangan. Nah, kalau ini kita biarkan berarti sama artinya dengan kita mentolerir bakal terjadinya teror dimana-mana gitu.

RNW: Jadi ini semacam langkah preventif pencegahan begitu ya?

HM: Ya, langkah preventif. Ini kita juga lakukan ke Amerika bukan hanya ke Belanda. Ketika Amerika mau menyerang Irak, sudah kita ingatkan bahwa tindakan anda secara generasi ke generasi akan menimbulkan terorisme yang tidak akan ada habis-habisnya.

RNW: Tapi mengapa pak Hasyim Muzadi merasa untuk perlu menulis bersama tokoh-tokoh agama yang lain?

HM: Ya supaya di Indonesia jangan salah paham. Dikiranya itu kerjaan kristen atau kerjaan Budha atau kerjaan Katholik kan begitu. Kalau sampai orang Indonesia menganggap bahwa penghinaan itu kerjaan Kristen kan ada konflik islam-kristen di Indonesia.Tapi dengan adanya kita menolak bersama-sama, itu kan jelas bahwa semua agama menolak kalau pun ada yang melakukan itu pasti jenis atheisme, bukan isme dari agama-agama.

No comments: